Alfi selalu punya cara sendiri untuk membuat hari-hari kecil terasa hangat. Senyum yang ramah, chat singkat yang muncul tiba-tiba, dan perhatian kecil yang tak pernah diminta tapi selalu tepat waktu—itulah kenangan yang tersisa sekarang. Bunga terakhir ini bukan sekadar rangkaian kelopak dan batang; ia adalah pesan, penutup, dan penghormatan sekaligus.
Di kartu kecil yang kusisipkan, kugores tinta: "Untuk Alfi — yang selalu tahu cara menemukan matahari ketika aku lupa melihat langit." Hurufku bergetar; garis-garis itu mencoba menyusun memori: gelak tawanya di antara hujan, sapaan yang sederhana tetapi menenangkan, dan cara ia menata buku-buku di rak seperti menyusun hari-hari kita. Ada luka-luka halus di tepi kertas—jejak air mata yang tak kuaku—membuat kata-kata tampak lebih nyata. bunga terakhir buat alfi